Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu
seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu
dan menyerahkannya kepada algojo-algojo,
sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu,
apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu
dengan segenap hatimu.
Mat. 18:33-35

Lagu:

Yesus Tuhanku Satu-Satunya atau Ku Percaya
Sekarang Saya Sudah Bebas
Mengampuni Lebih Sungguh

Naskah Mengampuni dan Diampuni:

(Raja dan pelayannya jangan dibuat konyol karena melambangkan Tuhan dan para malaikat-Nya.)
(Ada takhta di tengah-tengah panggung.)
(Musik kerajaan - megah.)
(Seluruh pelayan masuk – 2 baris – berdiri tegak menunggu raja masuk.)

(Terompet kerajaan – raja berjalan masuk diiringi seorang pengawal yang membawa tombak.)
(Semua pelayan segera berbaris tegap ke pinggir.)
(Raja duduk dengan gagahnya di takhta.)

Raja: Bendahara, bawa kemari semua catatan hutang orang-orang. Aku mau mengadakan perhitungan.

(Bendahara segera membawa map bantex yang tebal-tebal sambil berlari ke raja dengan penuh hormat.)
(Raja membuka map pertama lalu membaca sebentar dengan serius.)

Raja: Panggil si Gembul kemari.

(Seorang pelayan segera lari keluar.)
(Raja mengambil map yang lain.)

Raja: Panggil juga si Dokri kemari.

(Seorang pelayan segera lari lagi.)
(Raja mengambil lagi map yang lain.)

Raja: Apa? Hutangnya banyak sekali? Siapa ini? (bolak-balik lagi mapnya). Oh ini benar-benar keterlaluan, ia tidak mungkin membayarnya. Panggil dia! Cepat panggil si Mino kemari!

(Seorang pelayan segera lari lagi.)
(Gembul datang dengan gemetaran.)

Gembul: (Gemetaran) Selamat siang paduka, apakah paduka memanggil hamba, si Gembul?

Raja: Gembul, masih ingatkah kau akan hutang-hutangmu padaku?

Gembul: (Gemetaran) Tentu paduka, tentu, hamba akan segera melunasinya.

Raja: Baiklah, tahukah kamu berapa hutangmu?

Gembul: (Gemetaran) Tahu paduka, 1.325 dinar.

Raja: Salah!

Gembul: (Gemetaran) Oh maaf, paduka, maaf (sambil menghitung-hitung dengan cepat pakai sempoa) Oh ternyata paduka benar, hutang saya 2.325 dinar.

Raja: Salah! Gembul kau jangan main-main. Bendahara, bawa ke sini alat hitung kerajaan!

(Bendahara berlari-lari membawa sempoa yang sangat besar.)

Raja: Hitung jumlah hutang si Gembul.

(Bendahara menghitung-hitung dengan cepat - jangan bloon, tapi sangat smart.)

Raja: Berapa?

Bendahara: 25.325 dinar paduka. (Menyebutnya dengan sangat anggun – bendahara yang teliti dan pintar luar biasa.)

Raja: Ya, tepat sekali. Kau jangan coba-coba menipuku Gembul.

Gembul: (Gemetaran) Maaf paduka, maaf, ternyata tidak ada yang bisa hamba sembunyikan di hadapan paduka.

Raja: Gembul, aku beri kamu kesempatan untuk menghitung-hitung lagi hutangmu, aku tidak mau dibilang telah menipumu.

Gembul: (Gemetaran) Baiklah paduka, paduka sungguh teliti dan murah hati.

(Gembul berjalan pergi.)
(Dokri masuk sambil menunduk sopan.)

Raja: Kamukah Dokri?

Dokri: Benar paduka, hamba mau minta maaf paduka, mungkin bulan depan hamba baru bisa melunasi hutang hamba.

Raja: Mungkin katamu?

Dokri: Maaf paduka.

Raja: Baiklah, kau boleh pergi.

(Dokri pergi.)
(Masuklah si Mino dengan sangat memelas (menangis pilu) dan ketakutan, lalu langsung berlutut di depan raja.)

Raja: Mino, tahukah kamu berapa banyak hutangmu?

Mino: Tahu paduka, 10.000 talenta.

Raja: Bagaimana kamu membayarnya?

Mino: Saya akan bekerja keras paduka.

Raja: Tidak mungkin! Kamu mau bekerja keras selama berapa tahun? Kamu bekerja keras seumur hidup pun belum bisa membayar hutangmu. Hutangmu bukan 1 talenta, Mino,10.000 talenta. 10.000 Mino. Bendahara, hitung, berapa tahun ia harus bekerja keras untuk membayar 10.000 talenta itu.

Bendahara menulis di papan.

1 talenta = 6000 dinar
Hutang = 10.000 talenta = 60.000.000 dinar.
Upah kerja 1 hari = 1 dinar
Mino harus bekerja selama 60.000.000 hari = 60.000.000:365 = 164.384 tahun.
Dibulatkan menjadi 164.000 tahun.

Bendahara: Paduka, jika seluruh penghasilan Mino diberikan untuk membayar hutang, tanpa beli makanan atau pakaian, maka Mino harus bekerja selama 164.000 tahun tuanku.

Raja: 164.000 tahun, Mino.

Mino: Ampun paduka, ampun, saya tidak mungkin punya umur sepanjang itu.

Raja: Baiklah, pengawal! Jual seluruh harta Mino, rumah, istri, anak-anaknya, dan semua yang dia punya dijual.

Mino: (Sangat terkejut dan segera sujud) Sabar paduka, sabarlah, kasihanilah saya, hu hu hu....

(Pengawal menyeret Mino ke arah keluar - Mino terus menangis pilu.)

Raja: Tunggu!

(Hening sejenak, semua memandang raja.)

Raja: (Mata memandang Mino penuh kasih) Mino, mulai hari ini semua hutangmu lunas. Kau tidak berhutang lagi.

Mino: (Ekspresi girang luar biasa, melompat-lompat, dll.— girangnya harus luar biasa. Boleh memeluk raja, memeluk bendahara, memeluk pelayan satu per satu sambil terus melompat-lompat, teriak-teriak, “bebas”!)

MC: Musik... (Sekarang saya sudah bebas)

Adik-adik, hutang Mino kepada raja itu sama dengan hutang dosa kita kepada Tuhan, sangat banyak, banyak sekali, tidak mungkin dibayar, tetapi Tuhan sudah mati di kayu salib untuk membayar semua hutang dosa kita.
Karena itu, kita menyanyi lebih semangat dan penuh syukur, musik!

Sekarang, kita lihat, apa yang terjadi dengan si Mino.

(Tahkta tidak perlu dipindah, jadi Mino dan Bun-bun berdialog agak jauh dari tahkta.)

Mino: Hai Bun-Bun, (mencekik leher Bun-Bun) bayar hutangmu, 100 dinar!

(Bun-bun terus bergaya memohon-mohon dan Mino terus mengancam.)

MC: Wah, Mino keterlaluan adik-adik, 100 dinar khan sedikit, Bun-Bun cukup bekerja selama 100 hari = 3 bulan lebih sedikit, maka hutangnya sudah lunas.

Bun-Bun: Ampun Mino, sabar, saya akan bekerja beberapa bulan lagi dan saya akan melunasi hutang saya.

Mino: Tidak, saya akan lapor ke sheriff sekarang dan kau akan di penjara sampai kau melunasi hutang-hutangmu. Sheriff! Tangkap dia dan jebloskan ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya pada saya.

(Sheriff memborgol tangan Bun-Bun. Bun-Bun terus memohon ampun.)
(Mino pergi dengan gaya sombong dan tidak peduli.)
(Seseorang segera berlari-lari ke arah takhta sambil berteriak, “Paduka, paduka!” - masuk ke dalam.)

(Musik kerajaan - megah.)
(Seluruh pelayan masuk – 2 baris – berdiri tegak menunggu raja masuk.)

(Terompet kerajaan – raja berjalan masuk diiringi seorang pengawal yang membawa tombak.)
(Semua pelayan segera berbaris tegap ke pinggir.)
(Raja duduk dengan gagahnya di takhta.)

Raja: Panggil Mino!

(2 pengawal berlari-lari memanggil Mino.)
(Mino masuk sambil diseret oleh 2 pengawal sampai ke hadapan raja.)

Mino: (Berlutut) Paduka, Mino datang memberi hormat.

Raja: (Suara keras dan tegas) Mino! Aku sudah membebaskan hutangmu yang banyak itu, tetapi mengapa kamu tidak mau membebaskan hutang temanmu yang sangat sedikit itu? Pengawal, penjarakan Mino sampai ia dapat melunasi hutang-hutangnya.

(Pengawal menyeret Mino yang teriak-teriak dan bergaya seperti Bun-Bun tadi mohon ampun padanya.)

MC: Hutang dosa kita sudah Tuhan bebaskan, jadi kalau teman kita menyakiti perasaan kita, kita harus MENGAMPUNI. Kalau teman kita merusakkan barang kita, kita harus MENGAMPUNI.
Boleh nggak kita menyimpan rasa benci dan dendam?
Mengingat-ingat kesalahan orang, menyimpan rasa benci dan dendam itu sama seperti Mino yang menyerahkan Bun-Bun untuk dipenjara oleh sheriff. Tuhan tidak suka, karena kesalahan orang pada kita hanya kecil saja dibanding hutang dosa kita pada Tuhan.
Ingat hutang Bun-Bun tadi bisa dibayar hanya dengan bekerja selama 3 bulan tetapi hutang Mino harus dibayar selama 164.000 tahun.
Adik-adik, mari kita buang rasa benci kita, kita buang dendam kita, kita hapus semua ingatan kita tentang kesalahan orang.
Kita mau mengampuni kesalahan orang lain yang kecilllll itu seperti Tuhan telah mengampuni kesalahan kita yang baaaanyakkkkk itu. Musik

Mengampuni mengampuni lebih sungguh (2X)
Tuhan, tolong aku, mengampuni lebih sungguh.
Mengampuni mengampuni lebih sungguh.