Dan lidahku akan menyebut-nyebut keadilan-Mu,
memuji-muji Engkau sepanjang hari.
Mzm. 35:28
Naskah Keluarga Sol Sepatu:
Narator:
Di kota Collin, tempat keluarga Pak Clement tinggal, hiduplah keluarga "Sol Sepatu". Mereka adalah keluarga yang sangat sederhana, tetapi mereka punya keistimewaan yang menganggu tetangganya. Mereka sering berdoa dan menyanyi bersama. Masih ingat Pak Clement? Ya, Pak Clement termasuk salah satu langganan mereka.
(Matahari bersinar terang.)
(BaPak Sol Sepatu naik sepeda di bawah panggung, di dekat kursi anak-anak)
Bapak Sol Sepatu:
(Masuk dengan naik sepeda dan membawa alat-alat untuk reparasi sepatu.) Sol sepatu, sol sepatu, sol sepatu ....
(Bunyi Hp.)
Bapak Sol Sepatu:
(Ke pinggir, untuk jawab HP) Oh, selamat pagi Pak Clement,
(manggut-manggut) baik, baik. Wah banyak sekali sepatu yang rusak. (Manggut-manggut) Baik, baik, pasti bisa, pasti bisa.
(Putar-putar naik sepeda sambil menyanyi keluar panggung lalu masuk lagi.)
Lagu:
Sukacita dalam hatiku, di dalam hatiku 2x.
Yesus yang memberi, tak satu pun pengganti, menandingi....
Sukacita dalam hatiku, di dalam hatiku.
Bapak Sol Sepatu:
Ayo siapa yang mau sepatunya mengkilap, mari datang ke sini.
(Berhenti dan ngelap sepatu beberapa anak di bangku depan.)
Bapak Sol Sepatu:
Kilapnya kling! Kling!
Lagu:
(Dinyanyikan dengan tune kring kring kring ada sepeda)
Kling kling kling
kling kling kling
sepatuku kilap.
Kling kling kling
kling kling kling
Pak Sol Sepatu yang ngelap.
(Naik sepeda lagi.)
Bapak Sol Sepatu:
Siapa yang sepatunya rusak, mari saya perbaiki (parkir sepeda).
Ayo, ayo (berjalan sambil berkeliling).
Rusak dikit, rusak banyak, pasti jadi bagus.
(Bertanya ke adik-adik) Ada yang mau betulin sepatu?
(Seorang Gembala Anak memberi sepatu yang menganga minta lem.)
Bapak Sol Sepatu:
Oh... gampang-gampang, besok boleh diambil di sini. (Masukkan sepatu jelek itu ke kantong.)
(Bunyi petir, hujan deras
.)
(Pak Sol Sepatu segara memakai jas hujan lalu buka payung dan naik sepeda lagi.)
Bapak Sol Sepatu:
Sol sepatu! Sol sepatu!
Entah hujan entah badai ....
(Keluar panggung)
(Matahari terbenam, bulan & bintang mulai muncul)
Layar dibuka
(Ibu Sol Sepatu sedang menggoreng tahu.)
Bapak Sol Sepatu:
(Parkir sepeda, menaruh barang-barangnya, sambil bersiul.) Halo ma.
Ibu Sol Sepatu:
(Lincah) Halo juga.
Soli anak):
(Segera keluar memeluk dan mencium ayahnya.) Pa, tadi Pak Clement mengirim sepatu-sepatu rusak. Pak Ali juga. Banyak deh pekerjaan papa malam ini, Soli bantuin ya pa?
(Papa mengelus-ngelus kepala Soli sambil tersenyum dan manggut-manggut.)
Soli:
Papa masih ingat lagu yang Soli nyanyikan di Rumah Gembira kemarin?
Bapak Sol Sepatu:
Bangkit! (Soli segera nyambung) Bangkit! Yuk siarkan Dia.
(Bapak dan anak nyanyi dengan sangat gembira dan dengan gaya yang lucu, antusias ada saling pandang, saling peluk, dll.)
(Ibu Sol Sepatu masuk dan keluar membawa gelas isi air.)
Ibu Sol Sepatu:
Minum dulu airnya pa.
(Papa minum air lalu semua masuk rumah.)
Bu Dipo (tetangga):
(Ngintip waktu papa lagi minum air) Ihh, minum a--ir, nggak punya teh apa? Gitu masih nyanyi-nyanyi seneng. Heran! (bergaya menghina dan sombong banget.)
Pak Dipo:
Kenapa? Mama ngiri?
Bu Dipo:
(Mendengus)
Pak Dipo:
Ha ha ha
(sambil mengibas-ngibaskan uang) papa punya ide, papa punya ide. Ini pasti lucu, buat hiburan kita juga ma.
Bu Dipo:
Suka-suka papa lah.
Pak Dipo:
(Bertanya ke anak-anak) Ada yang tahu ide papa? Ide cemerlang! Ha ha ha
apa yang tidak bisa dibeli dengan uang! Uang! U-a-n-g ! (mengibaskan uangnya sambil menciumnya). Siapa yang nggak mau uang? Siapa? Siapa?
(Ketuk-ketuk meja) Kali ini pasti berhasil, pasti!
(Selama Pak Dipo ngomong, ibu Dipo bersolek benerin rambut, pakai lipstik.)
Bu Dipo:
Pa, kalung berlian mama di mana sih?
(Ibu Dipo buka dompet besar, ambil dompet kecil, buka, lalu ambil dompet lebih kecil lagi, buka, lalu masukan lagi lalu masuk rumah)
Pak Dipo:
Nanti ma, nanti,
. Papa mau melaksanakan ide papa (sambil berjalan muter-muter lalu berjalan ke arah rumah Pak Sol Sepatu bergaya melirik, ngitip dari jauh, pengin tahu).
(Pak Sol Sepatu masuk pakai kaos putih swan, sambil bantu bahkan sangat membantu mama menyiapkan makan malam, lalu sama-sama makan nasi dan tahu serta cabe sambil bercakap-cakap seru dan gembira, saling mengambilkan makanan, Soli mengupaskan ubi, dll. jangan lupa berdoa sebelum makan.)
(Bapak Dipo ngintipnya semakin dekat.)
Bapak Sol Sepatu:
Selamat sore Pak Dipo, ada yang bisa saya bantu?
Pak Dipo:
Ya, ya, pasti.
(Bapak Sol Sepatu berjalan mendekat.)
Pak Dipo:
(Sambil memukul-mukulkan uangnya ke pagar) Saya mau beli nyanyianmu dan doamu.
(Selama percakapan para bapak, para ibu dan Soli harus berakting juga Ibu Dipo dengan gaya cuek dan sombong, keluarga Sol Sepatu bingung, tapi lugu.)
Bapak Sol Sepatu:
Beli nyanyian dan doa? Maksud bapak buku nyanyian dan buku doa?
Pak Dipo:
Bukan! Bukan! Dengarkan saya baik-baik. Mulai hari ini, jam ini juga, kalian tidak boleh menyanyi dan berdoa selama sebulan, karena saya sudah membeli nyanyian kalian dan doa kalian. Ini uangnya (menepuk-nepukkan uang di pagar).
Bapak Sol Sepatu:
(Lari ke mama dan Soli antusias mau dapat uang tapi bingung) Kita nyanyi dan doa dalam hati aja, cuma sebulan kok, nanti kita bisa beli TV baru yang besar dan pasang keranjang di sepeda papa. (Semua manggut-manggut senang.)
(Bapak Dipo tetap dengan gaya yakin berhasil dan sombong, menepuk-nepuk uangnya di pagar. Ibu Dipo mendekat dan mengacungkan jempolnya.)
Bapak Sol Sepatu:
Bapak sungguh-sungguh?
Pak Dipo:
Lho, memangnya main-main?
(Ibu Dipo belagu banget.)
Bapak Sol Sepatu:
Ba
ba... baiklah Pak, tapi cuma sebulan khan?
Pak Dipo:
Iya, sebulan ini saya mau menikmati suasana hening, tenang ..., setuju khan?
Bapak Sol Sepatu:
I... Iya Pak.
Pak Dipo:
(Menyerahkan uang) Nih.
(Bapak dan Ibu Dipo masuk sambil berjalan penuh kesombongan - tertawa ha ha ha ha
.)
Bapak Sol Sepatu:
Sukacita da
(mau menyanyi, tapi cepat-cepat menutup mulut).
(Bapak Sol Sepatu dan keluarga menghitung uang sambil gemeteran.)
Soli:
Terima kasih Tuhan ....
Bpk. & Ibu Sol Sepatu:
Ssssttt....
(Semua berjalan ke dalam rumah.)
Narator:
(Kukuruyuk) Satu hari lewat dengan penuh keheningan.
(Kukuruyuk) Dua hari lewat, masih hening.
(Kukuruyuk) Tiga hari lewat, masih tetap hening.
(Kukuruyuk)
.
Bu Dipo:
Ha ha ha, berhasil! Berhasil! Hidup menjadi tenang.
(Ibu Dipo ke pagar sambil memanggil sopir, mobil mendekat, lalu berangkat Pa, mama berangkat dulu.)
(Suara Bapak Sol Sepatu nyanyi lalu diikuti oleh suara Ibu Sol Sepatu lalu suara Soli.)
Lagu:
Sukacita dalam hatiku, di dalam hatiku 2x.
Yesus yang memberi, tak satu pun pengganti, menandingi....
Sukacita dalam hatiku, di dalam hatiku.
Pak Dipo:
Lho lho, apa-apaan ini? Saya khan sudah membeli nyanyian kalian?
Bapak Sol Sepatu:
(Diikuti Ibu Sol Sepatu dan Soli sambil nunduk) Maaf Pak, ini uangnya saya kembalikan. Saya salah Pak, saya pikir memuji Tuhan dan berdoa dalam hati sudah cukup, ternyata saya tidak bisa, istri saya tidak bisa, anak saya juga tidak bisa. Daripada saya sumpek, rasanya sesak, lebih baik uang ini saya kembalikan. Maaf Pak. (Ibu Sol Sepatu dan Soli manggut-manggut terus.)
Pak Dipo:
Apa?
Bapak Sol Sepatu:
Jangan marah, jangan marah Pak! (Ibu Sol Sepatu dan Soli berpelukan takut.)
Pak Dipo:
Sungguh hebat Tuhan Yesus itu sampai kau tidak mau uang. Hebat! Hebat! Mana istriku? Ia harus tahu!
(Mobil datang, Ibu Dipo turun dari mobil.)
Pak Dipo:
Kebetulan, sini ma, sini, cepat!
Bu Dipo:
(Berkata kepada sopir) Bawa masuk semua belanjaan saya.
Pak Dipo:
Ma, kita harus mengenal Tuhan Yesus. Dia hebat ma, hebat..., hebat luar biasa, sampai-sampai keluarga Sol Sepatu tidak mau uang papa yang banyak itu. Mereka lebih memilih memuji Tuhan Yesus dan berdoa. Bayangkan! BAYANGKAN ma...!!! Hebat khan, Tuhan Yesus ini!
Bu Dipo:
Jadi?
Pak Dipo:
Jadi, kita juga harus percaya dan menerima Tuhan Yesus ini ma.
Bu Dipo:
Oke (tetap dengan gaya khasnya).
(Seluruh keluarga menyanyi bersama.)
Lagu:
Percaya! Percaya! Ku Slalu percaya!