Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh,
ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
Luk. 15:20
Naskah Kasih yang Tak Pernah Habis:
Pemimpin Pujian:
Selamat sore dan selamat datang di ....
Hari ini kita akan bersukaria!! Musik.
Lagu:
Mari kita bersukaria
Pemimpin Pujian:
Masih ingat cinta Tuhan yang luar biasa? Ya! Kasih Tuhan tidak bisa habis kita gali, …. Musik!
Lagu:
Gali t’rus gali
Pemimpin Pujian:
Gali terus, cinta Tuhan Yesus tak kan habis! Mari semuanya berdiri! Kita gali terus cinta Tuhan Yesus.
Lagu:
Gali t’rus gali
(Musik terus dimainkan)
Pemimpin Pujian:
Adik-adik, kita tetap berdiri, kita mau berterima kasih kepada Tuhan Yesus untuk cinta-Nya yang tidak pernah habis. Kakak akan berdoa satu kalimat, kalian tirukan satu kalimat, oke?
Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih
Karena cinta-Mu sungguh luar biasa
Cinta-Mu tidak pernah habis
Di mana pun Kau tetap cinta
Kapan pun Kau tetap cinta
Aku nyanyi Kau cinta
Aku sedih Kau tetap cinta
Tuhan Yesus, aku juga mau terus cinta-Mu
Amin
Pemimpin Pujian:
Mari kita gali lagi, gali terus! Semuanya berdiri!
Lagu:
Gali t’rus gali
Pemimpin Pujian:
Adik-adik, kalau Tuhan cinta kita, kita mau nggak terus cinta Tuhan? Mau nggak cinta Tuhan dengan segenap hati? Amin! Musik!
Lagu:
Seumur Hidupku (Yang utama t’lah kulakukan …)
Pemimpin Pujian:
Kita akan menyaksikan drama “Kasih Bapa yang Tidak Pernah Habis”, tapi sebelumnya kita dengarkan pengumuman dulu ya.
Pengumuman: ...
Sekarang, mari kita saksikan Drama “Kasih Bapa yang Tidak Pernah Habis”
Musik deng deng
Naskah Kasih yang Tak Pernah Habis:
(Layar – lobby hotel Mulia)
Ada Musik
Narator:
Setelah menjual semua bagian warisan yang diberikan oleh bapanya, Benaya pergi ke negeri jauh. Setiap hari, ia bersenang-senang. Ia tinggal di rumah yang mewah ini dan dilayani oleh banyak sekali pelayan. Wow!
Sedang apa dia sekarang?
(Suasana seperti lobby hotel Mulia) – Musik Klasik
(Orang pertama menawarkan proposal rumah – bawa gambar rumah dan gambar arsiteknya.)
Bungsu:
Apa? Rumah macam apa ini, tidak ada keistimewaan apa pun! Rumah baru saya harus wahhhh! hebatt!! Semua orang yang melihatnya harus bilang cek cek cek, gitu.
(Teman-temannya mengacungkan jempol dan mengangguk-angguk) – semua pakai jas keren , dan duduk di kursi sofa mewah.
Orang ke 2:
Kalau begitu, Bapak Benaya pasti cocok dengan proposal rumah buatan saya.
(Orang kedua menawarkan proposal rumah – bawa gambar rumah dan gambar arsiteknya.)
Bungsu:
Lho kok? Ini khan gedung-gedung terkenal di dunia.
(layar – gambar 3 gedung yang hebat)
Teman 1:
Ya, itu khan bla bla, yang baru kita kunjungi bulan lalu.
Teman 2:
Dan ini adalah bla bla yang kita kunjungi dua bulan yang lalu.
Teman 3:
Dan yang ini baru mau kita kunjungi minggu depan khan, Ben?
Orang ke 2:
Bapak suka yang mana, ... sebut saja, maka saya akan membuat rumah Bapak persis seperti itu kalau dilihat dari luar. Siapa pun yang melihatnya akan bilang cek cek cek, gitu.
Bungsu:
Charming! Charming! (Sambil tepuk tangan dengan angkuh – kayak The God Father). Sekarang, saya perlu interior design untuk bagian dalam rumah saya.
Orang ke 3:
Bapak Benaya pasti cocok dengan pilihan saya. (Sambil menunjukkan gambar-gambar), Bapak tinggal pilih, suasana seperti apa yang Bapak mau, saya siap melayani.
Bungsu:
Ruang tamu saya tidak boleh kalah megah dengan lobi hotel ini ya. Air terjun nomor satu di dunia harus ada di rumah saya. Semua barang harus dilapisi gading dan jangan lupa kursi saya. Kursi saya harus empuk, kalau saya mau empuk, kalau saya lagi mau dingin, kursinya harus bisa distel sesuai keinginan saya. Kalau saya mau pijat, kursi saya juga harus bisa memijat. Kalau saya mau tidur, kursi itu harus bisa menjadi ranjang paling nyaman di dunia.
Orang ke 3:
Siap pak, dijamin Bapak pasti tidak kecewa.
Teman 1:
Jangan lupa ruang Fitness.
Teman 2:
Dan ruang dansa.
Teman 3:
Lapangan bulu tangkis?
Bungsu:
Juga kolam renang. Ya, prinsipnya apa pun yang saya mau harus tersedia di rumah ini.
Orang ke 3:
Siap pak.
Bungsu:
Ayo, teman-teman. Kita makan malam.
(Semua pelayan berjalan masuk sambil menyanyi dan membawa lobster, gurami terbang, kepiting, sushi, buah kiwi, anggur, naga, jeruk, berbagai minuman.)
Makanan enak makanan sedap makanan mahal
Hmm harum … Makanan lezat makanan yammy semua ada
Kepengin udang kepengin ayam di sini ada
Kepengin apa mintalah saja pastilah puas
(Pelayan-pelayan melayani sambil benar-benar mengambilkan makanan. Benaya dan teman-temannya juga pura-pura makan dengan nikmat.)
Bungsu:
Yuk kita nonton konser musik “ “
Teman-teman:
Let’s go
(Benaya dan teman-temannya meninggalkan meja makan.)
(Pelayan-pelayan membereskan sisa-sisa makanan.)
Narator:
(Musik mengalun indah) Bapak Benaya hidup berfoya-foya setiap hari, hidup menjadi indah luar biasa. Tetapi, karena Bapak Benaya malas, tidak mau bekerja, maka uang sebanyak apa pun pasti akan habis juga… (Musik tegang) dan … wah celaka... sudah jatuh ketimpa tangga pula, ada bencana kelaparan di negeri itu! Banyak orang menjadi melarat! Bagaimana dengan Bapak Benaya?
Musik sedih
(Bungsu berjalan gontai dan duduk di sofa.)
Orang 1:
Maaf Pak, semua pelayan di rumah ini sudah pulang kampung, tidak ada yang mau kerja di sini karena Bapak sudah beberapa bulan tidak membayar gaji kami. Saya juga mau pamitan pak, … tolong Bapak bayar gaji saya, kalau tidak ada uang boleh juga pakai barang apa saja untuk ongkos saya pulang.
Bungsu:
(Melepas jas dan sepatunya) juallah ini dan ambillah uangnya sebagai gajimu.
Orang 1:
Terima kasih Pak, permisi..., jaga diri baik-baik Pak.
Orang 2:
Bapak Benaya, dengan sangat menyesal Pak, saya memberitahukan bahwa rumah Bapak telah disita, semua barangnya juga telah disita untuk membayar hutang-hutang Bapak. Bapak ….
Bungsu:
Saya tahu, saya harus pergi dari rumah ini ….
(Si bungsu keluar sambil menenteng lap-top, tapi diminta oleh tukang sita karena lap-top itu pun termasuk barang-barang yang disita.)
(Tukang sita membereskan kursi di panggung sampai tanpa sisa apa pun.)
Orang 2:
Kasihan Pak Benaya, rumah barunya tidak akan pernah jadi, rumah lama disita pula (geleng-geleng sambil berjalan masuk).
Musik lebih cepat dan lebih sedih
(Bungsu berjalan keluar ruangan dan masuk lagi dengan perut keroncongan, pakaiannya sudah jelek (tidak perlu compang-camping), terkesan kotor dan tidak rapi.)
Bunyi perut
(Berjalan ke sana kemari mencari pekerjaan - menemui 3 orang, tetapi ditolak.)
Orang 1:
(Bawa banyak kertas-kertas, sempoa, dan pakai kacamata tebal, memandang Benaya sebentar sambil menurunkan kacamatanya, lalu geleng-geleng dan pergi.)
Orang 2:
(Mengitari Benaya, melihat dari atas kepala sampai bawah, mengelilingi Benaya (Benaya hanya bisa tertunduk malu) lalu bilang, “Bangkrut ya? Kami tidak terima orang yang pernah kaya lalu bangkrut.” – berjalan masuk.)
(Saat Benaya datang ke orang 1 dan orang 2, majikan babi sudah di panggung bersama bujang-bujangnya dan mengatur kandang babi. Babi-babi berkeliaran dijaga oleh seorang bujang.)
Bungsu:
Tuan, adakah pekerjaan untuk saya?
Majikan:
Jang! Ujang! Ajarin dia kerja. Jaga babi saya baik-baik.
Ujang:
Jang, kau ambil makanan babi di dalam.
Bungsu:
Nama saya Ben.
Ujang:
Di sini semua penjaga babi dipanggil Ujang. Cepat ambil makanan babi dan beri makan babi-babi ini.
(Benaya keluar, lalu masuk lagi sambil bawa makanan babi.).
(Babi-babi makan dengan rakus, pemain menunjukkan ekspresi makan dengan sangat rakus dan lahap, menyeruduk Benaya yang akan merebut makanan babi.)
(Ketika babi-babi sudah selesai makan, ada bujang yang menggiring babi masuk. Saat itu Benaya mau mengambil makanan babi, tetapi tempat makanan babi direbut oleh ujang yang lain dan sambil berjalan masuk mengeluarkan makian menghina Benaya, "Dasar rakus, makanan babi juga mau dia".)
(Musik mengharukan)
Narator:
Bapak Benaya yang malang, tidak ada lagi teman, tidak ada lagi makanan enak, makanan babi pun tidak kebagian. Maka, teringatlah ia akan rumah bapanya. Semua pelayan di sana berlimpah-limpah makanannya.
(Benaya duduk termenung, sambil memegangi perut yang lapar, lalu membayangkan rumah bapanya.)
(Muncul gambar-gambar makanan yang jelas dan lucu – orang lagi gigit ayam goreng, lalu bic-mac, lalu pizza, spagetti.)
(Benaya ngiler rasanya dan ingin ikut menyantap.)
(Musik …)
Bungsu:
Ah seandainya segalanya bisa diulang lagi. Waktu itu, aku begitu bodoh meminta semua harta yang menjadi bagianku, lalu kujual semua. Aku bawa uangku yang banyak itu ke negeri ini. Aku pikir aku bisa berbisnis dan bertambah kaya, aku pikir aku bisa bersenang-senang seumur hidupku. Oh… huk huk huk (menangis dengan penuh penyesalan).
Bungsu:
Kalau aku pulang dan melamar menjadi orang upahan bapaku, masihkah bapaku mau menerimaku? Adik-adik, aku ingin pulang, tetapi aku takut. Ahh, aku akan minta ampun, aku akan pulang.
(Jalan keluar panggung, turun, putar masuk lewat pintu depan – tempat anak-anak)
Musik : Lagu Anak Bungsu ( Nikita )
Narator:
(peragakan) Setelah Benaya pergi dari rumah, bapanya sangat sedih. Setiap hari bapa terus menunggu, bapa selalu mengharapkan kepulangan Benaya.
(Bapa bergaya menyanyi “Anak Hilang” – isi suara laki.)
(Bapa terus memperagakan menunggu Benaya pulang, sambil bolak balik melihat ke arah depan.)
Bungsu:
Aku menyesal, aku akan minta ampun. Jadi pelayan pun aku mau. Ohh… huk huk … aku menyesal, aku tidak seharusnya pergi dari rumah bapaku, huk huk, aku seharusnya membantu bapaku, kerja keras dan bukan bersenang-senang, ohh… aku menyesal, dst. Pulang lebih baik daripada begini. Aku harus pulang, tidak ada jalan lain lagi. Pulang, pulang, pulang, walau jadi pelayan pun nggak apa, tapi aku mau pulang.
(Benaya terus berjalan dari arah anak-anak menuju panggung tempat bapa terus menunggu kepulangannya. Sambil berjalan Benaya terus mengungkapkan penyesalannya dan tekadnya untuk pulang.)
Musik terus dimainkan.
(Ketika bungsu sudah di depan panggung.)
Narator:
Walau si Benaya masih jauh, bapa sudah melihatnya, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
(Bapa kaget dan lompat melihat Benaya sambil berkata, “Anakku!” lalu berlari.
Bapa berlari… berlari… memeluk dan mencium Benaya – cium kiri kanan kiri kanan, peluk lagi, cium lagi, peluk lagi.)
(Saat bapa dan Benaya berpelukan, ruangan langsung gelap total, lampu hanya menyorot ke Bapa serta Benaya)
(Pelayan-pelayan pun ikut bertangis-tangisan - saling peluk antar pelayan saja tetapi tidak disorot dan jangan bersuara.)
PUPPET SHADOW -- lagu Amazing Grace
(Ruangan langsung terang lagi.)
Bungsu:
(Sambil menangis dan tetap berpelukan) Bapa , aku telah berdosa terhadap sorga dan bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa….
Bapa:
(Berkata kepada pelayan-pelayan) Lekaslah bawa kemari jas yang terbaik, pakaikan, pakaikan juga cincin di jarinya dan sepatu di kakinya.
(Bapa melihat muka Benaya, mengelus, mencium, memeluk, sambil berkata, “Anakku, anakku telah pulang”.)
(Pelayan dengan segera keluar lalu masuk lagi membawa jas, sepatu, dan cincin, dan memakaikannya pada Benaya.)
(Benaya harus menunjukan mimik terharu atas sikap dan rasa cinta bapa padanya, lalu berkata, "Oh bapa, ampuni saya, terima kasih bapa".)
Bapa:
(Berkata kepada pelayan) Sembelihlah lembu yang tambun, kita akan makan dan bersukacita, sebab anakku ini telah mati tetapi hidup kembali, ia telah hilang, tetapi kini aku dapatkan lagi. (Memeluk Benaya lagi.) Ayo semuanya, kita akan makan dan bersukaria!
(Semua pemain masuk ke panggung dan menyanyi.)
(Pemimpin pujian masuk dan mengajak anak-anak menyanyi bersama.)
Lagu:
“Mari Kita Bersukaria”
(Semua bawa buah, biskuit, cake, merapikan ruang, menurunkan layar – harus ready untuk puppet show.)
Begitu selesai menyanyi, puppet langsung siap.
PUPPET “SUKACITA” dan PUPPET “IKUT-IKUT YESUS” --- SEPATU-SEPATU
Kesimpulan:
Yang belum pulang, segera pulang karena Bapa kita, Tuhan kita, menunggu. Pulang berarti – rajin berdoa, setiap minggu selalu datang ke ibadah anak, untuk bersama-sama memuji Tuhan dan mendengarkan Firman. Sesudah pulang, jangan pergi lagi, kita harus tetap rajin, ikut Tuhan Yesus terus.
Kelompok Penyanyi -- Langsung nongol setelah kesimpulan.
Sukacita dalam hatiku. (Masuk dari dua arah, lari sambil tangan bergoyang ke kanan kiri.)
Di dalam hatiku. (Berdiri tegap, lurus.)
Sukacita dalam hatiku. (Jongkok sambil gerak.)
Di dalam hatiku. (Jalan sambil jongkok.)
Yesus yang memberi. (Berdiri cepat, lari dalam barisan ke kanan sambil tangan melambai di atas.)
Tak satu pun pengganti (Masih menghadap samping, dada sambil berjalan mundur.)
Menandingi (sudah ditengah - Lompat menghadap depan)
Sukacita dalam hatiku. (Mutar-mutar dengan merentangkan tangan.)
Di dalam hatiku. (Berdiri tegap, lurus, menghadap depan.)
Sukacita dalam hatiku. (Separuh lari ke kanan dan separuh lari ke kiri.)
Di dalam hatiku. (Menghadap depan sambil dengan yakin menunjuk hati, lalu lari masuk diiringi musik lari.)
(Tiba-tiba muncul -- deklamasi.)
Teman-teman, ada sukacita dalam hatiku.
Ya sukacita! Karena aku selalu tinggal dalam gereja.
Tidak pernah lari.
Tidak pernah pergi.
Tidak pernah kabur.
Aku suka tinggal bersama papa mamaku.
Aku juga suka tinggal di dalam gereja.
Di rumah papa mama, ada kasih papa mama.
Di dalam gereja, ada kasih Tuhan,
ada kasih kakak-kakak, saudara saudari dalam Tuhan.
(Semua lari masuk dari 2 arah mengikuti musik.)
(Main formasi di tangga panggung.)
Sukacita dalam hatiku. (Semuanya lari masuk lagi dari 2 arah, lari sambil tangan bergoyang ke kanan kiri.)
Di dalam hatiku. (Berdiri tegap, lurus.)
Sukacita dalam hatiku.
Di dalam hatiku.
Yesus yang memberi. Tak satu pun pengganti
Menandingi
Sukacita dalam hatiku.
Di dalam hatiku.
Sukacita dalam hatiku.
Di dalam hatiku.
Doa:
Adik-adik, mau sukacita? Jangan pernah kabur dari rumah papa mama, juga jangan pernah kabur dari gereja. Mari kita semua berdiri, kita katakan pada Tuhan bahwa kita cinta Tuhan Yesus -- Lagu doa & Berdoa.
Lagu:
Ku cinta Yesus.
Ku cinta Kau Yesus, Ku cinta Kau Tuhan.
Ku damba diri-Mu, Dekat denganku.
Hatiku milik-Mu Yesus.
Ku cinta Kau Yesus, Ku cinta Kau Tuhan.
Ku s’rahkan s’galaku, untuk dapat diri-Mu.
Aku milik-Mu, ya Tuhanku.
Ku angkat tanganku, ku sungguh menyembah-Mu.
Ku mengasihi-Mu.
Tiada yang lain, selain Engkau.
Tiada yang lain di hatiku.
Yang s’perti-Mu
(Musik tetap dimainkan.)
Divisi Operasional:
Adik-adik silakan duduk, bla bla (pengaturan pulang)
(Setiap kali memanggil satu wilayah untuk keluar, katakan, “Sampai jumpa minggu depan.”)