Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba,
dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan
yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi
mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?
Luk. 15:4
Naskah Anak Hilang:

Ada satu keluarga mempunyai 2 orang anak. Yang sulung bernama Petrus dan adiknya adalah Thomas. Kedua orang ini mempunyai sifat yang berbeda. Petrus adalah anak yang patuh kepada orang tua sedangkan Thomas nakal. Suatu hari mereka berdua pulang sekolah:

Babak 1

(Petrus dan Thomas masuk ke rumah dan disambut oleh mamanya.)

M: Wah…sudah pulang sekolah ya. Ayo lekas cuci tangan, ganti pakaian dan segera makan.

(Petrus dengan taat segera melakukan perintah mamanya, namun Thomas langsung duduk main video game.)

Lihatlah apa yang dilakukan oleh Petrus dan Thomas.

M: Thomas! Ayo makan! Nanti kamu sakit maag!

T: Ah…mama! Lagi tanggung nih! Nanti aja kenapa sih, jangan ganggu Thomas dulu ah.

(Mama hanya dapat menghela nafas panjang.)

Petrus dan Thomas pun bertumbuh jadi seorang pemuda. Petrus sudah lulus kuliah dan sekarang jadi insinyur, membantu papanya bekerja. Bagaimana dengan Thomas? Ah…ia masih belum lulus-lulus, karena setiap hari kerjanya hanya main saja.

(Petrus dan Thomas keluar bergantian.)

Babak 2

T: Wah… enak sekali di Amerika itu. Katanya cari uang di sana mudah. Aku mau ke sana aja untuk bekerja agar bisa jadi orang kaya. Bosan sekolah melulu, nggak lulus-lulus lagi.

Suatu malam Thomas menghampiri papanya yang lagi baca koran.

T: Pa, Thomas kan kelak dapat warisan, ya nggak?

P: Benar.

T: Thomas mau minta sekarang aja untuk modal kerja. Thomas mau berusaha di luar negeri.

P: Apa? Kamu kuliah aja belum lulus kok mau kerja?!?

T: Ah…yang penting kan bisa cari uang. Percaya saja nanti Thomas pasti lebih kaya dari papa. Ya…pa?!?

Mamanya langsung panik.

M: Jangan pa, biar Thomas selesaikan dulu sekolahnya.

Namun Thomas terus mendesak dan memaksa.

T: Pokoknya Thomas mau warisan itu! Thomas sudah bosan sekolah!

Papanya bingung, mamanya sedih dan akhirnya…

P: Thomas…sini…. Ini warisan bagianmu, jika tekadmu sudah bulat, papa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Baik-baiklah menggunakan uang ini.

T: Wah… jangan khawatir pa! Lihat saja nanti. Terima kasih pa.

Malam itu juga Thomas berkemas-kemas.
Keesokan harinya ketika sarapan (Mama, papa & Petrus sudah di meja makan) ...


M: Mana Thomas? Thomas! Thomas! Sarapan dulu, sayang.

Thomaspun muncul dengan membawa tas besar. Papanya kaget.

P: Hah…mau ke mana kamu, Thomas?

T: Pa, Thomas sudah beli tiket pesawat. Thomas mau pergi sekarang ya.

M: Thomas, apa-apaan ini. Kok mendadak sekali.

Pembantu2: Tuan kecil… jangan pergi …

T: Tenang... Ma, nanti kalau Thomas berhasil, apa pun yang mama mau akan Thomas belikan. Dan kalian semua, mbok Nem dan mbak Siti, aku akan bawakan banyak oleh-oleh. Dada… Thomas pergi dulu .

Papa dan Petrus berusaha menghalang-halangi Thomas, namun tidak berhasil.
Mamanya shock hingga pingsan.


Babak 3

Ternyata Thomas tidak jadi ke Amerika, ia pergi ke New Zealand.
Ketika tiba di New Zealand, Thomas segera mencari rumah. Ia menyewa rumah yang mewah.

Pemilik Rumah: Bagaimana Tuan? Apakah Anda senang dengan rumah ini?

T: Apakah ini rumah termewah di sini?

Pemilik Rumah: Benar, tuan.

T: Oke, aku sewa sekarang juga.

Pemilik Rumah: Silahkan tanda tangan di sini.

T: Ini uangnya. Mana kuncinya?

Pemilik rumah pun memberikan kunci pada Thomas.

Thomaspun mencari pembantu. Ia juga beli mobil, beli yacht, beli anjing, beli burung, ikan, dll., untuk memenuhi dan menghiasi rumahnya. Ia berlibur ke Australia, menyewa vila-vila mahal dan setiap kali melihat mobil bagus, ia pasti membelinya. Setiap hari kerjanya hanya berfoya-foya dengan teman-temannya.

Teman-teman Thomas: Thom, ayo makan!

T: Ayo!

Setelah mereka makan, mereka shopping beramai-ramai.

TT1: Wah, bagus sekali baju ini.

TT2: Iya… sepatu ini juga.

TT3: Hmm… arloji ini antik sekali.

T: Ambil aja teman-teman! Aku yang bayar.

TT: Sungguh… Thom? Kamu baik sekali. Asyik!!!

Begitulah Thomas, ia menghambur-hamburkan warisan ayahnya setiap hari dan lupa akan janjinya untuk bekerja. Hingga akhirnya uangnya mulai habis.
Thomas menjual semua yang dimilikinya dan mulai memecat para pembantunya.
Tetapi uangnya masih juga tidak cukup untuk membayar sewa rumahnya.
Suatu hari si pemilik rumah datang untuk menagih uang sewa.

PR: Hai anak muda! Ayo bayar, sudah tiga bulan kamu menunggak.

T: Tolonglah Pak. Beri saya waktu lagi.

PR: Tidak bisa! Sekarang juga kamu harus keluar dari rumah ini. Mana kunci rumah ini?

Dengan terpaksa Thomas menyerahkan kunci rumah itu dan sekarang ia tidak punya tempat tinggal lagi. Teman-temannya pun meninggalkannya. Thomas makan seadanya karena uangnya hampir habis sehingga ia jatuh sakit. Saat jatuh sakit, Thomas ingat akan mamanya.

Babak 4

T: Ah… seandainya aku di rumah, mama akan membuatkan aku bubur dan menemaniku. Aku ingin pulang, tapi aku takut diusir. Bagaimana kalau aku coba menulis surat dulu? ( Thomas menulis surat.)

Suatu hari ada surat datang ke rumah Thomas dan Petrus menerimanya.

Petrus: Pa… ma…! ... Thomas kirim surat!

Mama segera berlari dan membaca surat itu.

Baca suratnya.

P: Wah… Inem, Siti! Cepat beli semua kain putih di kota ini. Pasang bendera dari ujung jalan ini sampai ujung jalan sana. Dan khusus di rumah ini, pasanglah bendera yang besar sekali. Ini uangnya.

Inem dan Siti: Iya, Tuan. Segera.

Mereka membeli kain putih dan segera memasangnya.
Saat itu, Thomas yang sedang dalam perjalanan pulang merasa terheran-heran.

Penumpang 1: Apa-apaan ini, kok banyak bendera putih di sepanjang jalan??

Penumpang 2: Iya..ya. Ada apa ini??

Thomas berdebar-debar, apakah di rumahnya ada bendera putih??
Ketika dekat rumah, Thomas melihat dari jauh ada bendera putih besar di rumahnya.
Bahkan ia melihat papanya sedang duduk di depan rumah. Akhirnya Thomas memberanikan diri untuk berjalan menuju ke rumahnya dan ketika papanya melihat Thomas,

P: Thomas! Thomas pulang!!!
(Papanya berlari memeluk Thomas)
Thomas, akhirnya kamu pulang! Kami selalu mendoakan dan mengkuatirkanmu, nak. (Peluk, cium, sambil menangis.)

T: Pa, ... maafkan Thomas. (Nangis.)

P: Sudah … semua sudah berlalu… yang penting kamu sudah pulang dan bertobat.

(Mama dan Petrus turun. Mama langsung teriak histeris senang sambil berlari memeluk Thomas. Petrus juga memeluk Thomas.)

T: Pa… kok banyak bendera putih? Apakah ada banyak anak yang mau pulang, seperti saya?

P: Bukan. Papa sengaja memasang banyak bendera putih, sebab papa takut jika Thomas tertidur di kendaraan umum dan melewati rumah kita, Thomas nggak melihat bendera besar ini.

T: O… terima kasih pa... Thomas sekarang sadar, papa, mama dan kak Petrus sangat menyayangi Thomas. Thomas mau kuliah lagi dan menjadi anak yang baik, taat pada papa dan mama.

(Mereka berangkulan dan masuk ke rumah.)

Beban yang mau disampaikan:

Teman-teman, jika kamu nakal dan mau bertobat, orang tuamu, pasti akan mengampuni kamu. Mereka sangat mencintaimu walaupun marah.
Apalagi Tuhan kita, Dia selalu menunggu kita datang kepada-Nya. Dia sangat mencintai kita.
Apa pun yang kamu lakukan, jangan ragu untuk bertobat dan datang kepada Tuhan.

Isi surat:

Salam kangen, dari Thomas,
Pa, ma, kakak, apakah kalian baik-baik saja?
Pa, uang Thomas habis. Maafkan Thomas…pa, karena Thomas bukannya bekerja melainkan bersenang-senang.
Pa, ma, jika Thomas boleh pulang, tolong pasang bendera warna putih di depan rumah. Suatu hari Thomas akan lewat di depan rumah. Sekian dulu, terima kasih.

Anakmu yang menyesal,
Thomas.